HUJAN
Aku adalah awan yang mendung.
Hitam, gelap,pekat, dan siap runtuh.
***
Siang itu sangat
terik, gowesan sepedaku loyo tak
bertenaga. Tak ada semangat untuk terik kali ini. Semua makanan yang diproses
tubuh seharusnya menghasilkan energi, nampaknya
hanya tersisa beberapa persen saja. Percuma pagi dan siang tadi aku
banyak mengisi perut dengan karbohidrat dan makanan manis. Nyatanya, yang
dihasilkan tidak sebanding dengan apa yang kudapat kini. Ah, bukannya memang
terkadang seperti itu hidup ? hasil terkadang menghianati usaha. Atau, hanya
kita yang merasa seperti itu ?
Kecepatan
sepedaku hanya 1km/jam, jarak rumahku 3km. Dengan kondisi seperti ini, aku akan
sampai rumah magrib. Yang jelas berarti disambut oleh tatapan sinis om yang
tinggal serumah denganku. Keluargku sedikit aneh. Definisi keluarga yang
biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak tampaknya tidak berlaku untukku. Aku
terlahir sebagai anak tunggal, yang kini tinggal bersama nenek dan om. Ibuku
merantau jauh sekali, aku jarang melihatnya pulang. Kata ibu, ia tidak akan
pulang jika belum bisa membelikanku boneka Barbie. Aku memang sangat
menginginkan boneka jenis itu. Kalau saja aku tau akan ditinggalkan, tentu
rengekanku hari itu tidak akan pernah terjadi. Aku berjanji tidak akan meminta
apapun pada ibu, tidak akan.
***
“ Sa, duluan ya !” sapa beberapa
teman melewatiku.
“iya” sedikit senyum tersungging
untuk menunjukan bahwa aku bukan anak judes.
“ eh kamu sa, kenapa sih loyo
gitu ! sini mampir dulu. Minum es teh
dulu aja kali biar seger lagi “ teriak salah seorang teman dari warung Bi Uum.
Itu adalah
warung pinggir jalan. Tidak terlalu dekat dengan sekolah, namun tidak juga
jauh. Banyak teman yang biasa nongkrong
sepulang sekolah. Warung Bi Uum tidak akan meladeni anak pada saat jam
pelajaran sekolah, memberi rokok, dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan anak
smp seumuranku. Bi Uum emang memang mantep
euy.
“eh kamu Koh, iya kali ya. aku ga
semangat banget euy. Padahal tadi
makan abis banyak. Lari kemana makanan nya,
badan kurus, tenaga langka” aku
menepi dan langsung menyenderkan sepedaku pada sebuah pohon pisang.
“ kunaon atuh eneng ni lemes kitu atuh ih. water bibi mah ( kenapa
neng kok lemes begitu, bibi jadi khawatir)” Bi Uum yang tengah membereskan meja, segera
duduk disampingku.
“gak apa-apa bi, lagi gak enak
badan aja kayanya. efek ini badai tropis kali ya. kan kita kena ekornya ini
kata berita mah” sahutku sekenanya,
“ euleuh sakit ? mana ? da nteu panas ( sakit ? mana? tapi engga
panas )” dia membolak balikan tangannya diatas jidatku. Padahal tangannya bau
banyak hal. Kompor, bau minyak tanah, asap, debu, bawang,kopi.
“udah bi engga apa-apa. aku pesen
es teh manis aja ya bi satu. “ aku mencoba membuat Bi Uum tidak banyak
bertanya. Dan benar dia pergi dan membuatkan segelas air untukku.
Aku
duduk berhadapan dengan temanku sedari SD. Namanya Kukoh, nama yang unik
(kamuflase dari penggunaan kata aneh). Dia menatapku tajam, aku tak
membalasnya. Justru kini menggeletakan kepala diatas meja kayu warung. Kukoh
pindah tempat duduk dan menjatuhkan kepalanya diatas kepalaku dengan pelan, dan
diam.
“Kamu ngapain sih ?” aku masih
dalam posisi awal
“aku mau mendengarkan apa yang
tidak kamu ceritakan, sama seperti kamu mendengar meja dibawah telingamu” dia
menjawab pelan
Deg.. Sepertinya
dia tahu bahwa aku tengah menyembunyikan sesuatu dibalik mata dan senyum yang
selama ini selalu terpancar. Aku tau, dia adalah teman sedari kecil. Teman
bermain, teman menangis ( aku lebih sering dibuatnya menangis), teman yang
sering kupanjat pohon arbeinya, teman
yang rumahnya paling dekat denganku. Selama ini aku selalu tidak pernah
menceritakan apapun, walaupun dia sering bercerita banyak bahkan jika pagi ini
ia digigit serangga sekalipun. Aku tak perlu menjadi mata-mata untuk mengetahui
perasaan dan apa yang dia lakukan. Aku cukup menjadi aku yang suka
mendengarkan, atau sebenarnya mau tidak mau dipaksa mendengarkan.
“ berat ah” aku lalu bangun dan
menatapnya aneh. Selain namanya, tingkahnya memang sangat tidak masuk akal dan
sulit ditebak.
“sudahlah sa, ceritakan saja “
jawabannya dibarengi dengan Bi Uum mengantarkan segelas es teh untukku. Dan
langsung kedapur karena harus menyiapkan karedok
untuk gerombolan anak SMA yang seperti zombie
kelaparan.
“tidak apa-apa, aku baik-baik
saja. aku hanya haus. makhluk apa yang tidak lelah dengan cuaca ini, panas tapi
banyak angin. berat gowes juga”. aku menyedot minumanku dan memainkan seedotan.
Sangat segar, jika saja es ini bisa kukucurkan kedalam pikiran dan hati yang
kian memanas ini, batinku.
“ begitukan sa ? yasudah jika kau
tidak apa-apa. Aku tak memaksa. Tapi jika ada yang ingin kau bagi, kemarilah.
Telinga dan pundakku ini milkmu, kapanpun kau butuh” kini ia berbicara dengan
intonasi yang serius. Dan sungguh ini membuatku aneh tapi senang.
“ah kau bisa saja, sok romantis
sekali sih. Yasudah aku pulang ya. sepertinya tenagaku kembali pulih nih.” aku
menepuk pundaknya dan membayar minuman yang baru selesai aku habiskan.
Aku langsung mengambil sepeda dan
baru beberapa gowesan Kukoh berlari dan memanggilku.
“Saaaa, aku benar-benar akan
mendengarmu. aku berjanji” teriaknya dijalanan. Sungguh tidak tahu malu dia
saat itu. Aku hanya membalasnya dengan lambaian tangan. Aku menuju rumah.
***
Sesampainya aku
didepan pintu, seorang wanita beramput lurus dan panjang datang memelukku erat.
Dia menangis dipundak mungil milikku. Suaranya terdengar sesenggukan dan terus
memanggil namaku dengan pelan. Usapan halus yang aku rindukan itu kini ada
bersamaku. Aku mencium harumnya. Wangi yang sama, selalu membuatku ingin segera
lompat ke akhir tahun. Aku tahu dia akan pulang. Kedatangannya sudah bukan
rahasia lagi, semua orang sudah mengetahuinya. Ya, ibuku pulang.
Kini kami duduk
diruang tamu. Aku, ibu, nenek, om, nenek dan kakek yang tidak aku kenal, dan
seorang lelaki seusia ibu. Aku menguping dari percakapan nenek dan om ketika
aku mereka anggap tidur. Bahwa ibu pulang dan akan segera menikah lalu membawa
ku pergi bersamanya dan lelaki itu ketempat lelaki itu berasal. Semuanya
terkesan buru-buru dan terlalu cepat untukku. Aku masih ingin tidur dengan ibu,
memeluknya, mengerjakan PR bersama, main bersama. Aku tidak membutuhkan orang
lain. Bahkan aku tidak membutuhkan seorang ayah !
***
“ jadi kapan kita akan
melangsungkan pernikahan ? secepatnya ya ? karena kami tidak bisa bolak balik
Lombok terlalu sering. ongkosnya mahal “
ujar nenek yang tidak aku kenal, disambut tawa setiap orang.
Aku kebingungan
melihat semua orang tertawa, apa yang lucu ? apakah menikah sesuatu yang lucu
dan menyenangkan ? aku tidak suka dalam ruangan ini ! aku tidak butuh orang
baru ! aku tidak ingin !!
“ kamu kenapa nak ?” om itu melihat
wajah ku yang muram
“ aku sakit kepala aku ingin
masuk kamar” jawabku pelan
“kamu sudah makan ? minum obat
dan beristirahatlah” ibu mengusap dan mengecup keningku.
***
Aku masuk kamar
dan menutup pintu. Itu adalah hal yang menggangguku selama seharian ini. Aku
bahagia ibu pulang, tetapi aku sedih karena ibu akan menikah lagi. Dua hal yang
kontradiktif namun tengah aku rasakan. Seorang remaja tanggung dengan perubahan
emosi akibat perubahan pada masa transisi membuatku semakin kacau. Aku tidak
ingin memiliki orang baru tidak mau ! Orang itu akan mengambil ibuku, mengambil
perhatiannya, mengambil kasih sayangnya, mengambil semua hal yang seharusnya
hanya milik diriku saja. Nanti aku akan memiliki adik, dan ibu akan lebih
perhatian dan sayang kepadanya. Aku yang sudah jauh ini, yang sudah dilupakan
akan terlupakan. Aku benci orang atau siapapun yang berpredikat sebagai ayah ! BENCI
!
***
Langit yang dulu
cerah, karena proses alam membuatnya menjadi mendung. Air-air yang ada dibumi
naik ke awan. Kini awan terisi penuh air. Perubaham warna dari bersih menjadi
gelap. Biasanya disebut sebagai awan mendung. Kilat terkadang mengikuti langit
macam ini. Orang-orang tidak menyukai awan gelap nan pekat. Awan sudah sangat
berat menahan air yang kini mengisi dirinya. Namun, ia tidak pernah mau
menumpahkannya. Membuat orang disekitar yang melihat keatas khawatir akan turun
hujan sangat lebat nantinya jika sampai segelap itu. Tetesan hujan belum juga
turun. Sampai kapan awan kuat menahan beban air itu sendirian tanpa mau membagi
kepada tanah ?
Dan kini, awan
nampaknya sudah pasrah. Pengumpulan menahun yang terus dilakukan akhirnya
tumpah juga. Segala hal yang ada jatuh dan larut. Bak air bah yang jatuh,
membanjiri semua yang ada dibawahnya. Semua yang ada ditanah porak poranda.
Tidak bersisa, hanyut rusak, runtuh, hancur lebur. Butuh waktu lama memperbaiki
kerusakannya.
Namun, awan
lega. Segala yang menahan dan memberatkannya telah hilang. Kini warnanya
kembali cerah. Tak ada yang membuatnya terlalu berbeda. Dia bisa ringan kesana
kemari berlarian. Awan itu belajar bahwa memendam air hujan diatas sana
berbahaya untuk tanah kelak. Pembelajaran tentang itu, berbagi dengan tanah. Bahwa
hujan adalah sebuah tanda bahwa awan masih ada. Hujan adalah hujan.
***
Empat tahun
sudah berlalu sejak kejadian itu, kini aku akan tersenyum mengenangnya. Betapa
sangat terpaksanya aku menerima keadaan saat itu. Masa remaja yang membuatku
takut dan berpikir sangat tidak rasional akan menghambatku. Penjelasan yang
kurang dari ibuku membuatku takut. Tetapi itu adalah sebuah sejarah, dan
pembelajaran. Sesuatu yang aku dapatkan dari hidup menjadi gadis sepertiku. Bahwa
hidup adalah sebuah penerimaan. Memeluk erat semua kesedihan, menumpahkan dan
membaginya sepert hujan.
***
Komentar
Posting Komentar