Langsung ke konten utama

Tumbuh dengan orangtua tunggal


Perceraian merupakan mimpi buruk bagi sebuah keluarga. Ia seperti malapetaka, namun terkadang juga dapat berperan sebagai penyelamat bagi siapapun yang mengalami kekerasan dalam kehidupan rumah tangganya. Perpisahan memang selalu menyakitkan, baik bagi yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Betapapun benci sudah di ubun-ubun, tetapi kenangan akan kehidupan keluarga terkadang tertanam didalam benak.

Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang tinggi. Hampir 40 perceraian setiap jam-nya. Kamu bisa menengok kesebelah rumahmu, atau depan, atau belakang, melongok pada beberapa kerabat dan teman dekat. Adakah diantara mereka yang berpisah ? atau orangtuanya tidak tinggal bersama lagi ?

Perubahan-perubahan terjadi dalam satu malam. Salah satu orangtua pergi meninggalkan rumah, yang lain harus bekerja lebih keras. Bagi anak yang sudah dewasa mungkin memahami apa yang terjadi. Tapi untuk mereka yang lebih kecil, maka akan muncul kebingungan. "Mengapa sekarang di rumah tidak ada ayah?", "Mengapa ibu tidak pernah pulang lagi?".  Lambat laun mereka menyadari, bahwa salah satu harus pergi dan beberapa bahkan menghilang. 

Perceraian melukai. Melukai pasangan, anak, maupu kerabat. Konflik-konflik yang muncul sebelum putusan ditetapkan, panas ketika memperebutkan "kepemilikan", ataupun usaha yang dilakukan salah satu pihak untuk tetap bersama. Prosesnya sungguh, MENYAKITKAN.

Adalah aku, anak yang orangtuanya bercerai sejak usia belum genap 5 tahun. Ibuku menikah setelah lulus sekolah menengah atas, dengan seorang pria duda beranak satu. Awalnya kisah percintaan mereka tidak direstui, namun sebagai orang yang tengah dimabuk cinta mereka berusaha berbagai cara hingga akhirnya dapat menikah. Lalu, lahirlah aku. Bocah bayi yang lucu dan dapat meluluhkan orangtua mereka. Awalnya, aku dibesarkan dengan penuh cinta oleh mereka. Walaupun keadaan ekonomi sangat sulit pada saat itu, aku tetap dapat makan ikan hasil tangkapan ayah, ataupun buah hasil mencuri di rumah kakek. Mereka melakukan semuanya untukku, begitu kata ibu. Andai aku ingat momen itu, saat ayah menyayangi, menggendong, atau mencoba menghidupiku. Sayangnya tidak ada yang membekas, hanya ingatan ketika ia menggendongku dan menitipkan aku di nenek.

Rupanya, keadaan ekonomi semakin memburuk. Harus ada yang berkorban, pergi mencari uang barang sepeser untuk memastikan bahwa kita bisa makan hari itu. Ibu, dia mengambil sikap untuk merantau karena ayahku pengangguran kelas berat yang sulit bekerja di luar kota. Ibu bekerja menjadi asisten rumah tangga di negeri orang. Meninggalkanku yang usianya baru 2.5 tahun. Menitipkan aku pada ayah, berharap aku akan dibesarkan dengan berkecukupan cinta dan makan. Sayangnya, beberapa orang memang sangat brengsek hingga ke tulang. Dia malah menggunakan seluruh uang yang ibu berikan untuk main perempuan. Sudah brengsek, tidak tahu malu. Aku pun kena imbasnya, aku dipukul, diseret, dikurung dikamar setiap hari entah untuk melampiaskan apa. Bahkan sekedar buang air besar saja aku harus menangis sambil memukul pintu.  

Aku akhirnya bisa terbebas dari rumah itu, hijrah ke rumah nenek (dari ibu). Mereka bercerai, dan jelas hak asuh ada pada ibu. Lagian, mana mungkin dia sanggup dan MAU mengurusku bukan begitu?

Hidup dan tumbuh menjadi anak yang orangtuanya bercerai sejak kecil tidaklah mudah. Belum lagi aku tidak tinggal dengan orangtuaku. Hal tersulit adalah ketika mengisi form yang membutuhkan nama/ttd/isian mengenai ayah. Aku selalu berpikir sangat lama, bahkan membawahnya pulang untuk mencari jawabannya. Apakah aku bisa mengerjakannya? Tentu saja tidak!! Keluargaku juga tidak begitu tahu nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan sebagainya. Membuatku harus mengarang bebas, tak jarang sepertinya aku mengisi form yg sama dengan isi yang sangat berbeda. Hahaha!!

Aku harus menyadari bahwa akan ada hari dimana aku merasa iri dengan teman-temanku yang menuruku "lengkap". Memiliki kedua orangtua, penyayang, dan memiliki segalanya. Aku bahkan hingga sampai saat ini tidak tahu tanggal dan tahun lahir ayahku! Baru mengetahui namanya tepat setelah dia dimakamkan. 

Sebagai anak kecil, aku sering dijejali hal-hal seperti -- "orangtua itu harus ayah dan ibu", " kamu tidak lengkap bila tinggal dengan nenek dan hanya memiliki ibu saja", "semua keluarga bahagia itu tidak ada yang bercerai". Dan tentunya mitos itu terus aku pegang, membuatku semakin merasa berbeda, tidak lengkap, tidak bahagia, dan merasa diri kurang. Membuatku lupa bahwa segalanya yang aku butuhkan sudah aku miliki. Aku memiliki ibu, yang lebih dari cukup. Aku memiliki keluarga lain yang merawat dan mencintaiku. Bahwa aku perlu fokus pada orang-orang yang benar-benar peduli dan ada untukku. Perceraian tidak membuatku terbatas atau kurang, justru membuatku belajar bahwa aku perlu belajar untuk mencintai diriku dan orang lain. Dalam pernikahan mungkin nantinya akan mengalami masalah-masalah, tapi tidak seharusnya saling menyakiti. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya dilangit Planetarium

Hari ini abis jalan-jalan ke planetarium sama Uko. Dari manggarai naik krl, turun dicikini abis itu keluar stasiun ambil kearah kiri, lurus terus nanti ada angkot, kalo ga salah jurusan manggarai, nanti turun di TIM. Pokonya gampang banget aksesnya dari stasiun, dan super duper sebentar banget. Sebenernya udah pernah mau ke planetarium sampe dua kali. Pertama hari libur dan emang lagi ditutup, terus yang kedua kalah ama rombongan anak TK (nangis kejer). Serius deh, di planetarium isinya buanyaaaak anak-anak. Hampir semua bawa anak kecil padahal kayanya orangtuanya pengen nonton tapi waktu muda malu karena isinya planetarium anak-anak siklus berulang terus hngga kini. Samp gerbang TIM langsung keliatan kok tulisan planetarium, ada sebuah gedung yang bagian atasnya bulet, jadi inget kubah masjid. Pas masuk langsung deh disebelah kanan ada kaya kursi-kursi meliak-liuk. Jadi lucu deh, kalo antri di TIM disediain kursi sepanjang antreannya. Mungkin karena kebanyakan orangtua dan anak-ana...

Kamar Berantakanku, Istanaku !

Tulisan ini ditulis ditengah-tengah penatnya ngerjain tugas seabreg. Laporan parenting workshop, penelitian, makalah ilmiah, proposal penelitian, RPL PKB, RPL bimbingan kelompok, dan sampai lupa tugasnya apalagi. DEADLINE BANGET. Entah kenapa, dari dulu. Kamar selalu berantakan banget. Jangankan ngerjain tugas, ga ngapa-ngapain pun, bisa super duper meledak. Malah mirip kaya sebuah ruangan yang tengah-tengahnya abis kejatuhan bom atom. PECAH Pokoknya sebuah kamar yang super duper berantakan tapi sangat nyaman. Iya ! percaya deh. sangat amat nyaman. Aku bisa ambil barang-barang dimanapun. Semakin berantakan, semakin mudah cari ide buat ngerjain tugas, semakin nyenyak kalo tidur, semakin seneng berlama-lama dikamar, dan semakin sering dimaki-maki mama. Kayaknya semua ibu, khususnya. mendambakan lemari rapi, buku-buku tertata diatas meja, kamar anak gadis yang semerbak harum bunga. Tentu, ketika melihat kamar anak gadisnya malah lebih cocok diberikan predikat kandang ay...

Hidup Memang Tidak Adil ?

Pernahkah anda berpikir tentang keadilan yang terjadi didunia ini ? Tentang mengapa ada seorang anak baik yang lahir dari keluarga sangat miskin, tentang seseorang yang cerdas dan lahir dari rahim seorang tuna susila, tentang kejam dan terjal kehidupan yang dialami seseorang ? Adalah saya, kembali dengan pikiran liar semacam itu. Kemudian, "alam" media sosial seolah langsung menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah thread  di salah satu komunitas terbesar di Indonesia. Dengan judul yang menggugah mengenai kehidupan memang dipenuhi ketidakadilan. Pada saat itu saya lupa untuk menyimpan url  dari konten tersebut. Yang jelas, dalam artikel tersebut dituliskan bahwa kehidupan memang "tidak adil", tetapi memang itu lah realitas yang ada. Adil atau tidaknya kehidupan, yang terpenting adalah kenyataan tersebut yang perlu kita hadapi. Saya pun setuju dengan pendapat yang dituliskan. Karena dalam hidup bukan hanya tentang kebahagiaan dan dunia harus mengikuti versi...