Langsung ke konten utama

Kamar Berantakanku, Istanaku !


Tulisan ini ditulis ditengah-tengah penatnya ngerjain tugas seabreg. Laporan parenting workshop, penelitian, makalah ilmiah, proposal penelitian, RPL PKB, RPL bimbingan kelompok, dan sampai lupa tugasnya apalagi. DEADLINE BANGET.


Entah kenapa, dari dulu. Kamar selalu berantakan banget. Jangankan ngerjain tugas, ga ngapa-ngapain pun, bisa super duper meledak. Malah mirip kaya sebuah ruangan yang tengah-tengahnya abis kejatuhan bom atom. PECAH



Pokoknya sebuah kamar yang super duper berantakan tapi sangat nyaman. Iya ! percaya deh. sangat amat nyaman. Aku bisa ambil barang-barang dimanapun. Semakin berantakan, semakin mudah cari ide buat ngerjain tugas, semakin nyenyak kalo tidur, semakin seneng berlama-lama dikamar, dan semakin sering dimaki-maki mama.


Kayaknya semua ibu, khususnya. mendambakan lemari rapi, buku-buku tertata diatas meja, kamar anak gadis yang semerbak harum bunga. Tentu, ketika melihat kamar anak gadisnya malah lebih cocok diberikan predikat kandang ayam yang ditinggalin anak kebo yang jarang mandi, mama bakal teriak-teriak dengan suara 12 oktafnya. "kamu ini, bla bla bla bla"
kenapa aku tulisnya bla bla bla ? karena aku ga inget mama ngomong apa aja.

Dan lagi aku kena semprot mama, beberapa hari ini. Seketika aku mundur kedepan pintu, mau lihat segemana berantakannya kah kamar indahku. Sungguh ! bener-bener berantakan. Abis kena cacian mama, bukannya beresin, malah lompat-lompat nyanyi. Besoknya mama liat ? kena omel lagi.
Ya beginilah kami, saling melengkapi. Yang satu suka ngomel, yang satu ndableg alias tambeng alias susah dikasih tau.

Lalu, aku merasa tidak dimengerti. Aku anak yang rajin kok ! Serius deh. Aku suka bersih-bersih rumah, cuman ada satu bagian rumahku yang tetap kujaga keberantakannya, iya ! dia adalah kamarku.

Aku merasa menjadi satu-satunya makhluk Tuhan yang paling seksi yang sangat menjijikan. Gak ada yang menerimaku apa adanya (nangis kejer). Padahal, aku suka kamarku seperti ini. Kamarku hanya berantakan. Aku lebih mudah mencari sesuatu, memberikan inspirasi, dan gausah repot beresin karena semenit kemudian bakal berantakan lagi, serta banyak kecoa.
Biarpun begitu, sampai saat ini aku masih nyaman dengan kamarku. Berantakan yang terstruktur.


Ga aku kasih picture. ntar di banned karena konten photo mengandung hal-hal menjijikan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya dilangit Planetarium

Hari ini abis jalan-jalan ke planetarium sama Uko. Dari manggarai naik krl, turun dicikini abis itu keluar stasiun ambil kearah kiri, lurus terus nanti ada angkot, kalo ga salah jurusan manggarai, nanti turun di TIM. Pokonya gampang banget aksesnya dari stasiun, dan super duper sebentar banget. Sebenernya udah pernah mau ke planetarium sampe dua kali. Pertama hari libur dan emang lagi ditutup, terus yang kedua kalah ama rombongan anak TK (nangis kejer). Serius deh, di planetarium isinya buanyaaaak anak-anak. Hampir semua bawa anak kecil padahal kayanya orangtuanya pengen nonton tapi waktu muda malu karena isinya planetarium anak-anak siklus berulang terus hngga kini. Samp gerbang TIM langsung keliatan kok tulisan planetarium, ada sebuah gedung yang bagian atasnya bulet, jadi inget kubah masjid. Pas masuk langsung deh disebelah kanan ada kaya kursi-kursi meliak-liuk. Jadi lucu deh, kalo antri di TIM disediain kursi sepanjang antreannya. Mungkin karena kebanyakan orangtua dan anak-ana...

Hidup Memang Tidak Adil ?

Pernahkah anda berpikir tentang keadilan yang terjadi didunia ini ? Tentang mengapa ada seorang anak baik yang lahir dari keluarga sangat miskin, tentang seseorang yang cerdas dan lahir dari rahim seorang tuna susila, tentang kejam dan terjal kehidupan yang dialami seseorang ? Adalah saya, kembali dengan pikiran liar semacam itu. Kemudian, "alam" media sosial seolah langsung menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah thread  di salah satu komunitas terbesar di Indonesia. Dengan judul yang menggugah mengenai kehidupan memang dipenuhi ketidakadilan. Pada saat itu saya lupa untuk menyimpan url  dari konten tersebut. Yang jelas, dalam artikel tersebut dituliskan bahwa kehidupan memang "tidak adil", tetapi memang itu lah realitas yang ada. Adil atau tidaknya kehidupan, yang terpenting adalah kenyataan tersebut yang perlu kita hadapi. Saya pun setuju dengan pendapat yang dituliskan. Karena dalam hidup bukan hanya tentang kebahagiaan dan dunia harus mengikuti versi...