Langsung ke konten utama

Komitmen yang seharusnya berkomitmen

Perhatian !! Tulisan ini ditulis dalam keadaan kurang tidur, badan pegel-pegel, perut laper, kepala pusing. 


Kali ini saya belajar dari seseorang tentang sebuah komitmen. Bukan hanya tentang komitmen dalam artian yang romantis, lebih dari itu. Menurut KBBI komitmen adaah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Dari pengertian ini saya menyimpulkan bahwa komitmen adalah sebuah "sumpah", janji, pernyataan kesanggupan atas apa yang sudah disanggupi. Hal tersebut berarti bahwa ketika kita berkomitmen terhadap sesuatu, maka kita terikat oleh janji kita untuk melakukan sesuatu, menghadapi semua rintangan yang ada dalam rangka memenuhi sumpah kita.


Banyak hal tidak berjalan sebagaimana mestinya karena Ia melupakan komitmen yang dia buat sendiri. Tak sedikit rumah tangga retak karena tidak berjuang diatas komitmennya. Dan sepertinya ada banyak contoh kasus yang rasanya jika saya sebutkan akan memakan banyak waktu disini. Intinya adalah, orang itu lupa ia telah berkomitmen sehingga mengkambinghitamkan keterbatasan kondisinya. Maka, menurut saya perlu untuk memikirkan baik-baik sebelum membuat sebuah komitmen. Komitmen bukan sebuah omong kosong belaka. Komitmen adalah kata yang sakral, setidaknya begitulah menurutku,



Maka, ketika seseroang sudah paham akan komitmen yang dia buat. Semua rintangan yang dirasa berat akan hilang. Mengapa ? karena ia sadar ia telah berkomitmen. Ia akan berusaha untuk melakukan apapun agar komitmennya tetap bertahan.



Saya membahas komitmen, karena saya mengenalnya. Ia bercerita tentang sesuatu masalah yang kini dia hadapi, yang menurut saya adalah konsekuensi dari komitmen yang telah dia buat. Dia merupakan seorang lelaki yang hebat. Memilih untuk melanjutkan pendidikan sembari bekerja. Pekerjaannya bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus bolak balik keluar kota, bahkan keluar pulau. Hanya sedikit waktu yang tersisa untuknya. Tak jarang, melewatkan beberapa perkuliahan. Namun, dia telah berkomitmen bukan ? untuk menyelesaikan kuliah dan tetap bekerja ? saya fikir dia tau bahwa kesulitannya membagi waktu salah satunya karena pekerjannya. Dan saya fikir pun dia sudah memikirkan itu sejak awal memilih jalannya. Skripisinya menjadi terhambat, dan Ia ingin tahun depan wisuda. Sedangkan  saya tak tau sampai mana dia mengerjakan, menurut keterangannya belum banyak. Saya tak ingin diam saja, sebagai salah satu orang yang peduli. Saya mencoba ingin membantunya. Saya memberitahu dia bagaiamna saya mengatur jadwal, yang mungkin bisa ia tiru atau apa pilihannya lain seperti berhenti bekrja. Tetapi, karena watak saya yang ketika menjelaskan memang begitu, ia menganggap itu bentuk ekspresi marah. Matanya sangat merah ketika terakhir saya menatapnya. Saya tidak pernah berfikir bahwa kata-kata saya akan sangat menyakitinya. Saya hanya memberi tau, tentang apa yang dia inginkan, rencana apa yang ia harus lakukan, dan hal yang sudah dilakukan. Apakah saya salah mengingatkannya ? apakah saya salah jika menyadarkannya ?saya memikirkan hal ini hingga tidak dapat tidur, bahkan hingga saya mengetik ini saya baru memakan batagor tadi siang. Sungguh gila.



Saya benci peduli, peduli sangat menyakitkan. Saya tidak ingin peduli lagi. Saya tidak ingin memberi tau apa yang Saya lakukan yang mungkin berguna untuk orang lain. Saya tidak ingin ada yang tersakiti karena sikap saya yang mungkin tidak bisa diterima orang lain. Mungkin ini yang membuat saya sejak dulu tidak ingin memiliki hubungan dekat dengan siapapun.



Saya menyesal. Saya ingin menangis


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cahaya dilangit Planetarium

Hari ini abis jalan-jalan ke planetarium sama Uko. Dari manggarai naik krl, turun dicikini abis itu keluar stasiun ambil kearah kiri, lurus terus nanti ada angkot, kalo ga salah jurusan manggarai, nanti turun di TIM. Pokonya gampang banget aksesnya dari stasiun, dan super duper sebentar banget. Sebenernya udah pernah mau ke planetarium sampe dua kali. Pertama hari libur dan emang lagi ditutup, terus yang kedua kalah ama rombongan anak TK (nangis kejer). Serius deh, di planetarium isinya buanyaaaak anak-anak. Hampir semua bawa anak kecil padahal kayanya orangtuanya pengen nonton tapi waktu muda malu karena isinya planetarium anak-anak siklus berulang terus hngga kini. Samp gerbang TIM langsung keliatan kok tulisan planetarium, ada sebuah gedung yang bagian atasnya bulet, jadi inget kubah masjid. Pas masuk langsung deh disebelah kanan ada kaya kursi-kursi meliak-liuk. Jadi lucu deh, kalo antri di TIM disediain kursi sepanjang antreannya. Mungkin karena kebanyakan orangtua dan anak-ana...

Kamar Berantakanku, Istanaku !

Tulisan ini ditulis ditengah-tengah penatnya ngerjain tugas seabreg. Laporan parenting workshop, penelitian, makalah ilmiah, proposal penelitian, RPL PKB, RPL bimbingan kelompok, dan sampai lupa tugasnya apalagi. DEADLINE BANGET. Entah kenapa, dari dulu. Kamar selalu berantakan banget. Jangankan ngerjain tugas, ga ngapa-ngapain pun, bisa super duper meledak. Malah mirip kaya sebuah ruangan yang tengah-tengahnya abis kejatuhan bom atom. PECAH Pokoknya sebuah kamar yang super duper berantakan tapi sangat nyaman. Iya ! percaya deh. sangat amat nyaman. Aku bisa ambil barang-barang dimanapun. Semakin berantakan, semakin mudah cari ide buat ngerjain tugas, semakin nyenyak kalo tidur, semakin seneng berlama-lama dikamar, dan semakin sering dimaki-maki mama. Kayaknya semua ibu, khususnya. mendambakan lemari rapi, buku-buku tertata diatas meja, kamar anak gadis yang semerbak harum bunga. Tentu, ketika melihat kamar anak gadisnya malah lebih cocok diberikan predikat kandang ay...

Hidup Memang Tidak Adil ?

Pernahkah anda berpikir tentang keadilan yang terjadi didunia ini ? Tentang mengapa ada seorang anak baik yang lahir dari keluarga sangat miskin, tentang seseorang yang cerdas dan lahir dari rahim seorang tuna susila, tentang kejam dan terjal kehidupan yang dialami seseorang ? Adalah saya, kembali dengan pikiran liar semacam itu. Kemudian, "alam" media sosial seolah langsung menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah thread  di salah satu komunitas terbesar di Indonesia. Dengan judul yang menggugah mengenai kehidupan memang dipenuhi ketidakadilan. Pada saat itu saya lupa untuk menyimpan url  dari konten tersebut. Yang jelas, dalam artikel tersebut dituliskan bahwa kehidupan memang "tidak adil", tetapi memang itu lah realitas yang ada. Adil atau tidaknya kehidupan, yang terpenting adalah kenyataan tersebut yang perlu kita hadapi. Saya pun setuju dengan pendapat yang dituliskan. Karena dalam hidup bukan hanya tentang kebahagiaan dan dunia harus mengikuti versi...