Langsung ke konten utama

Postingan

Tumbuh dengan orangtua tunggal

Perceraian merupakan mimpi buruk bagi sebuah keluarga. Ia seperti malapetaka, namun terkadang juga dapat berperan sebagai penyelamat bagi siapapun yang mengalami kekerasan dalam kehidupan rumah tangganya. Perpisahan memang selalu menyakitkan, baik bagi yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Betapapun benci sudah di ubun-ubun, tetapi kenangan akan kehidupan keluarga terkadang tertanam didalam benak. Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat perceraian yang tinggi. Hampir 40 perceraian setiap jam-nya. Kamu bisa menengok kesebelah rumahmu, atau depan, atau belakang, melongok pada beberapa kerabat dan teman dekat. Adakah diantara mereka yang berpisah ? atau orangtuanya tidak tinggal bersama lagi ? Perubahan-perubahan terjadi dalam satu malam. Salah satu orangtua pergi meninggalkan rumah, yang lain harus bekerja lebih keras. Bagi anak yang sudah dewasa mungkin memahami apa yang terjadi. Tapi untuk mereka yang lebih kecil, maka akan munc...
Postingan terbaru

Instrumen Evaluasi Program Konseling

Dalam proses pemberian layanan, maka diperlukan sebuah proses evaluasi. Evaluasi bukan bertujuan untuk menghakimi tetapi mengarah pada mengetahui keadaan sebenarnya untuk kemudian dilakukan perbaikan. Oleh karena itu, pemberian saran, kritik, dan penilaian tentu bukanlah hal yang tabu dan perlu dihindari. Karena pada kenyataannya evaluasi tidak merugikan, justru memberikan dampak positif jika dilakukan tindak lanjut. Untuk mendukung proses peningkatan kualitas layanan konseling indivual disekolah, perlu dilakukan evaluasi salah satunya adalah oleh peserta didik. Pengerjaan instrumen tidak akan membuat peserta didik mendapatkan intimidasi, ancaman, maupun diberikan perlakuan yang berbeda. Pada hakikatnya, proses evaluasi murni dilakukan guna pelaporan dan perbaikan layanan konseling individual.  Bagi peserta didik dapat mengisi instrumen pada link  Instrumen Evaluasi Proses dan Hasil Konseling Individual Terimakasih, Salam Annisa Kusumaningtyas

Hujan {Cerpen}

HUJAN Aku adalah awan yang mendung. Hitam, gelap,pekat, dan siap runtuh . *** Siang itu sangat terik, gowes an sepedaku loyo tak bertenaga. Tak ada semangat untuk terik kali ini. Semua makanan yang diproses tubuh seharusnya menghasilkan energi, nampaknya  hanya tersisa beberapa persen saja. Percuma pagi dan siang tadi aku banyak mengisi perut dengan karbohidrat dan makanan manis. Nyatanya, yang dihasilkan tidak sebanding dengan apa yang kudapat kini. Ah, bukannya memang terkadang seperti itu hidup ? hasil terkadang menghianati usaha. Atau, hanya kita yang merasa seperti itu ? Kecepatan sepedaku hanya 1km/jam, jarak rumahku 3km. Dengan kondisi seperti ini, aku akan sampai rumah magrib. Yang jelas berarti disambut oleh tatapan sinis om yang tinggal serumah denganku. Keluargku sedikit aneh. Definisi keluarga yang biasanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak tampaknya tidak berlaku untukku. Aku terlahir sebagai anak tunggal, yang kini tinggal bersama nenek dan om. Ibu...

Negeri Kacamata (Cerita Bersambung)

Oleh : Annisa Kusumaningtyas Langit yang ungu dipagi yang indah, mengapa itu bisa terjadi ? ah sudahlah karena aku ingin seperti itu. Rakyat disini hidup rukun dan damai, sawahnya berwarna merah menyala. Ya itu ladang padi, jangan tanyakan mengapa disini, dinegeri kami,  Kami memiliki hal-hal yang tidak wajar.  Air mengalir dari langit, bukan itu bukan hujan, hanya saja tampak seperti air terjun yang jatuh dari langit, disampingnya tumbuh rerumputan dan bunga-bunga penuh warna yang akan bersinar ketika malam tiba. Pohon-pohon tinggi tentu menjadi pemandangan yang memenuhi mata ketika pertama kali memasuki sebuah gerbang tinggi, kami biasanya menyebut gerbang keberuntungan. Kami memang hidup didalam pohon, dibawah tanah dan ditempat manapun kami ingin tinggal. Jangan tanyakan soal gedung disini ! sudah berabad-abad yang lalu, tak ada bangunan yang tersisa. Semua hilang, kira-kira itu yang dapat kuketahui sampai saat ini. Sayang sekali nenekku tidak mau bercerita banyak...

Instrumen Evaluasi Proses Bimbingan Klasikal

Dalam proses pemberian layanan, maka diperlukan sebuah proses evaluasi. Evaluasi bukan bertujuan untuk menghakimi tetapi mengarah pada mengetahui keadaan sebenarnya untuk kemudian dilakukan perbaikan. Oleh karena itu, pemberian saran, kritik, dan penilaian tentu bukanlah hal yang tabu dan perlu dihindari. Karena pada kenyataannya evaluasi tidak merugikan, justru memberikan dampak positif jika dilakukan tindak lanjut. Untuk mendukung proses peningkatan kualitas layanan bimbingan klasikal disekolah, perlu dilakukan evaluasi salah satunya adalah oleh peserta didik. Pengerjaan instrumen tidak akan membuat peserta didik mendapatkan intimidasi, ancaman, maupun diberikan perlakuan yang berbeda. Pada hakikatnya, proses evaluasi murni dilakukan guna pelaporan dan perbaikan layanan bimbingan klasikal.  Bagi peserta didik dapat mengisi instrumen pada link  Instrumen Evaluasi Proses Bimbingan Klasikal   Terimakasih, Salam Annisa Kusumaningtyas

Hidup Memang Tidak Adil ?

Pernahkah anda berpikir tentang keadilan yang terjadi didunia ini ? Tentang mengapa ada seorang anak baik yang lahir dari keluarga sangat miskin, tentang seseorang yang cerdas dan lahir dari rahim seorang tuna susila, tentang kejam dan terjal kehidupan yang dialami seseorang ? Adalah saya, kembali dengan pikiran liar semacam itu. Kemudian, "alam" media sosial seolah langsung menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah thread  di salah satu komunitas terbesar di Indonesia. Dengan judul yang menggugah mengenai kehidupan memang dipenuhi ketidakadilan. Pada saat itu saya lupa untuk menyimpan url  dari konten tersebut. Yang jelas, dalam artikel tersebut dituliskan bahwa kehidupan memang "tidak adil", tetapi memang itu lah realitas yang ada. Adil atau tidaknya kehidupan, yang terpenting adalah kenyataan tersebut yang perlu kita hadapi. Saya pun setuju dengan pendapat yang dituliskan. Karena dalam hidup bukan hanya tentang kebahagiaan dan dunia harus mengikuti versi...

Serapah Anak Bosan

Sama Saja ini hari jumat. Dan kemarin, hari ini adalah sama. sama-sama sebuah nama. Kamu masih saja disana, duduk ? berlari ? mengerjakan sesuatu ? atau bermain ponsel ? Aku menyebutnya sibuk, kau memanggilnya bekerja. Ah ya ? Bekerja dari gelap sampai gelap Kau sungguh tidak puitis, bahkan judul buku pun habis gelap terbitlah terang. Aku sunyi. Kapan ? Pagi kau sarapan Siang kau bekerja malam kau ngantuk lalu aku kapan ? B osan Apakah bulan pernah bosan untuk mengitari matahari ? Apakah bumi pernah benci kepada benda yang selalu menguntit didekatnya ? Apakah dia ingin lari ? atau mencari sesuatu yang lain? Apakah mereka pernah bertengkar karena alasan menjemukan ? Apakah kau pernah bosan ? Pasar   Ada banyak penjual dan kerumunan Ada bunga, apel merah, beras, pupuk kompos. Semua orang berebut, memegang dan menawar Aku butuh, tapi tak punya uang Aku ingin, tapi tak punya nyali Hanya duduk dipinggiran menunggu pasar ...