Oleh : Annisa Kusumaningtyas
Langit
yang ungu dipagi yang indah, mengapa itu bisa terjadi ? ah sudahlah karena aku
ingin seperti itu. Rakyat disini hidup rukun dan damai, sawahnya berwarna merah
menyala. Ya itu ladang padi, jangan tanyakan mengapa disini, dinegeri kami, Kami memiliki hal-hal yang tidak wajar. Air mengalir dari langit, bukan itu bukan
hujan, hanya saja tampak seperti air terjun yang jatuh dari langit,
disampingnya tumbuh rerumputan dan bunga-bunga penuh warna yang akan bersinar
ketika malam tiba. Pohon-pohon tinggi tentu menjadi pemandangan yang memenuhi
mata ketika pertama kali memasuki sebuah gerbang tinggi, kami biasanya menyebut
gerbang keberuntungan. Kami memang hidup didalam pohon, dibawah tanah dan
ditempat manapun kami ingin tinggal. Jangan tanyakan soal gedung disini ! sudah
berabad-abad yang lalu, tak ada bangunan yang tersisa. Semua hilang, kira-kira
itu yang dapat kuketahui sampai saat ini. Sayang sekali nenekku tidak mau
bercerita banyak tentang hal itu. Satu yang aku tahu, ini negeri kami yang dipenuhi
dengan kebahagiaan, sejauh ini masih dipenuhi dengan perasaan itu, entah jika
kau bertanya nanti sore atau esok pagi.
**
Aku
menghirup nafasku sedikit tersengal.
Disini terlalu banyak kepulan asap tebal yang menyesakkan organ
pernapasanku dan penglihatanku. Ah sebuah alat penerangan super canggih yang
kupakai pun masih saja mengahalangi pandangan mata rabun ini. Akhirnya, aku
sampai didepan sebuah pintu tua berukirkan sebuah tulisan kuno yang sampai
sekarang aku masih sulit membacanya, itu aksara jawa walaupun sampai sekarang tak
ada yang mampu membacanya, bahkan kedua orang tuaku sekalipun. Aku mengetuk pintu itu perlahan. Dan tak lama
terdengar langkah kaki yang berasal dari dalam rumah tua itu, rumahku memang
yang paling kuno. Ini peninggalan dari nenek dari nenek dari neneknya ibuku.
Engkau tau dia siapa ? pintar ! aku pun tidak tau dia siapa, terlalu rumit
dijelaskan. Lagipula siapa peduli pemilik rumah reyot ini. “
“hei kau, kemana saja. Ibu sudah bilang. Kembali sebelum asap itu memenuhi tempat ini. Ibu tidak ingin kau sesak napas dan mati sia-sia dijalan. Cepat masuk !” , aku mengikuti dibelakanganya.
“hei kau, kemana saja. Ibu sudah bilang. Kembali sebelum asap itu memenuhi tempat ini. Ibu tidak ingin kau sesak napas dan mati sia-sia dijalan. Cepat masuk !” , aku mengikuti dibelakanganya.
**
Haaaa
“kau kena, kau jaga”, terdengar teriakan segerombalan anak kecil yang berlari
disebuah danau. Ya itu danau yang aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi
kita bisa berdiri diatasnya. Terdengar mustahil tapi itulah negeri kami. Ini
bukanlah negeri dongeng, bukan negeri para peri yang memang tidak ada. Ini
nyata ! ini negeri ku, negeri kami kaum manusia. Percayalah kami ada !.
“hei
ichi, ayo berburu ikan . aku tau kau pasti membolos lagi bukan hari ini “ suara
seseorang mengagetkanku, itu adalah Renata, dia temanku. Badannya tinggi,
sedikit gemuk dan kulitnya putih. Jika saja kau melihat wajahnya yang lucu dan
pipinya yang merah, pasti kau akan tertarik. Tapi entahlah disini, orang
seperti renata dianggap aneh dan dibully.
Hanya aku saja mungkin yang mengakui betapa cantik dan lucunya renata. Sempat
aku bertanya kepada neneku, dia hanya berkata “itu balas dendam”, ketika aku
bertanya lebih lanjut. Dia hanya menjawab “kamu akan tahu, nanti’. Memang
renata sedikit berbeda dengan ras kami. Ras kami berkulit sawo matang, kurus,
tinggi dan memakai kacamata. Sungguh ! disini semua ras kami berkacamata.
Terdengar lucu. Tapi ini lah negeri kacamata yang akan disebut-sebut sebagai
dongeng yang nyata.
**
Lagi-lagi
aku asik melamun yang membuatku terjebak diantara asap-asap sialan itu lagi. Ku
regangkan tubuhku diatas kasur. Hari yang melelahkan dan membosankan telah aku
lalui lagi. Aku butuh perubahan dihidupku, ingin melihat dunia luar dibalik
tembok tinggi itu. Seseorang membuka pintu, dari parfume yang Ia pakai saja aku
sudah tau Ia siapa.
“ kami menunggumu terlalu lama, makanlah makanan ini. Kami bosan mendengar alasan yang sama setiap hari. Ketinggalan bus lagi ?, mau jadi apa kau nanti ! pasti kau tertidur dibawah pohon itu lagi kan ? segera mandi dan makan. Aku tak ingin kau sakit dan kurus ! “ oceh wanita paruh baya yang membawa sebuah nampan berisi makanan. Sudah kutebak, pasti hanya ayam dan telur. Sayur, disini terlalu mahal. 20 kali lipat harga ayam. Sudahlah, aku akan segera mandi dan beristirahat.
“ kami menunggumu terlalu lama, makanlah makanan ini. Kami bosan mendengar alasan yang sama setiap hari. Ketinggalan bus lagi ?, mau jadi apa kau nanti ! pasti kau tertidur dibawah pohon itu lagi kan ? segera mandi dan makan. Aku tak ingin kau sakit dan kurus ! “ oceh wanita paruh baya yang membawa sebuah nampan berisi makanan. Sudah kutebak, pasti hanya ayam dan telur. Sayur, disini terlalu mahal. 20 kali lipat harga ayam. Sudahlah, aku akan segera mandi dan beristirahat.
**
“ Ah tidak re, aku ingin disini saja. Membaca buku yang baru aku temukan digudang
bawah tanah milik nenek moyangku mungkin “ aku tetap duduk dibawah pohon besar,
ditempatku banyak sekali pohon besar jadi bisa dibilang aku duduk dibawah pohon
besar yang sangat besar, yang daunnya berwarna-warni dan berbuah apel. “buku
apa ? bukumu terlihat using sekali. Coba ku lihat apa judulnya. Tek no lo
gi “ Renata menarik buku yang sedang ku
baca dan membaca judulnya, dan segara ku rebut . “ re, aku sedang membaca.
Kembalikan ! ini buku seru tentang bagaimana kehidupan manusia dibantu oleh
sesuatu yang disebut mesin. Ah ak ingin ke zaman itu, zaman yang serba canggih”
aku merebahkan tubuhku diatas hamparan rumput, beberapa helai daun jatuh
terbawa angin, beberapa lagi mengenai wajahku, aku memejamkan mataku. Dan….
*Bersambung*
Komentar
Posting Komentar